Coronavirus dan COVID-19, Apakah Mematikan?

COVID-19 adalah jenis Coronavirus yang awalnya dideteksi di daerah Wuhan, Cina, yang kemudian terus menyebar. Saat ini, COVID-19 sudah menyebar di beberapa negara seperti Thailand, Hong Kong, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Macau, Malaysia, Singapura, Australia, Prancis, Jerman, Kanada, Vietnam, Kamboja, Nepal, Sri Lanka, Finlandia, UAE dan US. Virus ini dapat menyebabkan komplikasi pernapasan yang cukup fatal, seperti pneumonia.

0
175
an elderly woman wearing mask
Lansia memakai surgical mask.

Dunia kini sedang dihebohkan oleh virus korona. Mengapa demikian dan apa itu virus korona? Virus korona atau Coronavirus adalah jenis virus yang sering ditemukan di beberapa spesies hewan seperti unta, sapi, kucing, dan kelelawar. Coronavirus biasanya tidak dapat menular dari hewan ke manusia, namun beberapa jenis virus ini dapat bermutasi dan menjangkit manusia yang kemudian penularannya dapat menyebar dari manusia ke manusia, seperti SARS dan MERS.

Seperti kita ketahui, SARS dan MERS memakan banyak korban jiwa. Pada tahun 2002, SARS menyebar dengan hampir tidak terkendali ke 37 negara dan menyebabkan ketakutan di seluruh dunia. Penyakit ini menginfeksi lebih dari 8.096 orang dan membunuh lebih dari 774 orang. Sementara itu, MERS tidak begitu mudah menular dari manusia ke manusia. Akan tetapi, tingkat kematian yang disebabkan olehnya lebih besar. Sejak 2012, ada sebanyak 2.494 kasus positif MERS di 27 negara dan wabah ini telah membunuh sekitar 858 orang.

Nah, lalu apa itu COVID-19? COVID-19 adalah jenis Coronavirus yang awalnya dideteksi di daerah Wuhan, Cina, yang kemudian terus menyebar. Saat ini, COVID-19 sudah menyebar di beberapa negara seperti Thailand, Hong Kong, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Macau, Malaysia, Singapura, Australia, Prancis, Jerman, Kanada, Vietnam, Kamboja, Nepal, Sri Lanka, Finlandia, UAE dan US. Virus ini dapat menyebabkan komplikasi pernapasan yang cukup fatal, seperti pneumonia.

Virus ini diduga menyebar dari manusia ke manusia melalui cairan yang keluar saat bersin dan batuk yang kemudian terhirup/masuk melalui mulut, hidung, dan/atau mata. Gejala awal dari COVID-19 hampir sama seperti gejala flu biasa, yaitu demam, batuk, lemas dan sesak napas. Masa inkubasi virus ini berkisar 2-14 hari setelah terpapar virus dan beberapa orang bahkan tidak menunjukkan gejala demam.

infographic on 2019-nCov, symptomps and how to prevent it
Gejala dan Cara Pencegahan COVID-19

Per tanggal 17 Februari 2019, dikabarkan bahwa kasus positif COVID-19 sudah mencapai 71,330 kasus dengan 1,775 korban jiwa. Namun, 10,972 korban telah berhasil sembuh dari virus ini. Dapat diambil kesimpulan bahwa walaupun masa penyebarannya cepat, COVID-19 memiliki mortality rate yang rendah, hanya sekitar 2,5%. Kebanyakan korban yang meninggal adalah orang lanjut usia atau orang yang memiliki komorbid penyakit lain, sedangkan orang yang memiliki imunitas yang baik memiliki peluang yang tinggi untuk dapat sembuh dari virus ini.

Per tanggal 17 Februari 2019, dikabarkan bahwa kasus positif COVID-19 sudah mencapai 71,330 kasus dengan 1,775 korban jiwa.

Meskipun begitu, kita harus tetap waspada agar tidak tertular virus 2019-nCoV ini, karena bagaimanapun, mencegah lebih baik daripada mengobati, terlebih lagi, vaksin untuk 2019-nCoV juga belum ditemukan. Nah, hal apa saja yang harus kita lakukan agar kita bisa terhindar dari virus ini?

  1. Selalu gunakan masker (seperti surgical masker dan masker n95)
  2. Selalu cuci tangan pakai sabun dengan durasi 20 detik
  3. Sedia hand sanitizer berbahan dasar alkohol
  4. Hindari menyentuh mulut, hidung dan mata jika belum mencuci tangan
  5. Istirahat yang cukup dan olahraga
  6. Konsumsi gizi seimbang, perbanyak sayur & buah
  7. Bila mengalami gejala pilek, batuk, dan sesak napas, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan

Selain itu, Anda bisa mengonsumsi vitamin atau suplemen yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh, seperti :

Anda bisa mendapatkan suplemen untuk meningkatkan kekebalan tubuh yang asli di Vitamin Diskon atau dapat melalui IG @vitamindiskon.

Sumber : 
The Centers for Disease Control and Prevention (CDC)
World Health Organization